Saudara sering
mendengar, bahwa ada banyak jalan menuju kepada Kerajaan damai dan sejahtera
yang kekal itu, sehingga kita dapat menempuh salah satu dari jalan-jalan itu lalu
sampai ke sana .
Saya adalah salah satu yang percaya, bahwa ada hanya dua jalan, bahwa yang satu
membawa kepada hidup yang kekal dan yang lainnya membawa kepada kematian yang
kekal. Untuk memberikan kepada Saudara alasanku mengapa saya percaya, bahwa hanya
ada dua jalan ini, maka saya akan membaca dari Buku yang tak pernah salah itu
di bawah ini :
Matius 7 : 13, 14 :
“Masuklah kamu daripada pintu yang sempit, karena luaslah pintu dan
lebarlah jalan yang membawa kepada kebinasaan, dan banyaklah orang yang masuk
daripadanya. Karena sempitlah pintu dan sesaklah jalan yang membawa kepada
hidup, dan hanya sedikit orang yang mendapat dia.”
Berapa banyak
jalan? Hanya dua, yaitu jalan yang benar dan jalan yang salah. Kedua jalan ini selalu berada dengan kita, dan akan
senantiasa ada selama kedua manusia badani dan rohani itu hidup di bumi. Mereka
itu muncul bersama-sama dengan munculnya dua orang bersaudara yang pertama yang
hidup di bumi, yaitu Kain dan Habel. Orang-orang yang berjalan pada jalan yang
sempit adalah para pengikut Habel, dan orang-orang yang berjalan pada jalan
yang luas adalah para pengikut Kain. Ada
banyak yang berjalan pada jalan yang luas itu, sebab semua yang datang ke dunia
ini memulai berjalan di dalamnya, bahkan kebanyakan dari mereka senantiasa
tinggal di dalamnya.
Demikianlah
halnya, sebab untuk memulai kita telah dilahirkan dari daging, yaitu
orang-orang Kain secara alamiah. Akibatnya, sebelum kita dilahirkan kembali,
yaitu dilahirkan oleh Roh lalu dengan demikian itu dibawa ke dalam jalan yang
sempit itu, maka kita semuanya berjalan di dalam jalan yang lebar. Disamping
itu jalan yang lebar itu adalah cukup luas bagi seseorang untuk memikul
segala-galanya yang ditawarkan kepadanya oleh dosa, tetapi jalan yang sempit
itu adalah sangat sempit sehingga harus melepaskan apa saja, terkecuali diri
orang itu sendiri. Akibatnya, secara perbandingan, maka hanya sedikit yang
memilih untuk menolak segala keinginan daging dan meninggalkan dosa dalam
segala bentuknya. Lalu pada hakekatnya, maka banyak akan berjalan pada “jalan
yang disangka orang betul adanya”, walaupun “….. akhirnya kelak menjadi
jalan-jalan kepada maut.” Amsal 14 : 12. Sekarang marilah kita kembali kepada
Injil Yohanes pasal 9:
Yohanes 9 : 39 :
“Maka kata Yesus : “Kedatangan-Ku ke dalam dunia ini karena hal hukuman
supaya orang yang tiada melihat itu dapat melihat, dan supaya orang yang
melihat itu menjadi buta.”
Di sini kepada
kita dikatakan, bahwa Yesus telah datang bagi keadilan yang akan membuat
orang-orang yang melihat itu menjadi buta, dan orang-orang yang buta itu
menjadi celek. Ucapan itu adalah aneh, tetapi artinya adalah jelas. Ia datang untuk merubah setiap manusia ---
untuk mengembalikan kedudukan setiap orang, yaitu orang-orang yang buta menjadi
celek, dan orang-orang yang melihat menjadi buta.
Marilah kita
sekarang mengadili sendiri persoalan kita. Jika penglihatan kita pada saat ini
masih tetap sama seperti sebelumnya, maka jelas kedatangan-Nya itu belum
membawa manfaat apa pun juga bagi kita. Jika pada kedatangan-Nya itu kita
mengakui, bahwa kita telah melihat dan telah cukup mengetahui, sehingga tidak
memerlukan apa-apa lagi, sehingga tidak dapat membawa kesan sebaliknya bagi
kita, maka kita akan menjadi buta untuk selama-lamanya, kita tidak akan pernah
lagi dapat melihat akan apa yang diinginkan-Nya kepada kita untuk melihat.
Tetapi jika kita mengakui, bahwa kita adalah buta terhadap perkara-perkara
rohani, sehingga mata kita perlu lagi dibukakan, maka Kristus akan membuat kita
celek dan melihat. Yang sedemikian inilah oleh pengalaman akan dikatakan:
“Dahulu aku buta, tetapi kini aku melihat.” Pengalaman orang buta itu hendaklah
menjadi milik kita.
Yohanes 9 : 40, 41 :
“Maka beberapa orang Farisi yang beserta dengan Yesus mendengar
perkataan ini, lalu berkata kepada-Nya: ‘Kamipun butakah? Lalu kata Yesus
kepada mereka itu: ‘Jikalau kamu buta, maka kamu seharusnya tidak berdosa;
sebab katamu, ‘Kami tampak’, maka oleh karena itu dosamu tetap ada.”
Jika engkau
mengatakan engkau melihat, lalu masih terus berbuat dosa, maka engkau
sendirilah yang bertanggung jawab atas dosamu. Tetapi jika engkau tidak
melihat, maka Ia akan membuatmu melihat, supaya kamu akan berhenti berbuat
dosa.
Yohanes 10 : 1 :
“Sesungguh-sungguhnya Aku berkata kepadamu, barangsiapa yang tiada
masuk kandang domba itu melalui pintu, melainkan memanjat melalui tempat lain,
maka ialah seorang pencuri dan penyamun.”
Maukah Saudara
masuk ke dalam ‘kandang domba’ itu? Jika Saudara mau, maka Saudara harus masuk
melalui ‘Pintu’. Jika Saudara berhasil masuk melalui cara lain, maka akhirnya
Saudara akan dilempar keluar ke dalam kegelapan, di sanalah ada kertak gigimu.
Dari kedua pilihan ini kita semua harus membuat pilihan.
Yohanes 10 : 2 :
“Tetapi dia yang masuk daripada pintu itu ialah gembala daripada kawanan
domba.”
Di dalam ayat 9
Kristus mengatakan: “Akulah pintu itu.” Gabungkan ayat 9 dengan ayat 2, maka
Saudara akan melihat, bahwa orang-orang yang masuk melalui jalan Tuhan adalah
hanya orang-orang yang diakui-Nya sebagai gembala-gembala dari kawanan domba-Nya.
Olehnya itu Tuhan memaksudkan juga, bahwa terdapat pula gembala-gembala yang
tidak direstui-Nya yang sedang menggembalakan kawanan domba-Nya.
Yohanes 10 : 3 :
“Maka kepada orang ini pintu dibukakan oleh penunggu pintu, dan segala
domba itu mendengar akan suaranya, maka ia memanggil akan segala dombanya
sendiri itu masing-masingnya dengan namanya, lalu membawa mereka keluar.”
Penjaga pintu ,
yaitu orang yang bertugas, akan membuka pintu hanya kepada mereka yang telah
memenuhi semua persyaratan untuk masuk. Dengan kata lain, Tuhan menceritakan
kepada kita dengan jelas, bahwa tidak seorangpun boleh menghindar dari
pemeriksaan penjaga pintu lalu untuk selamanya lolos. Namun walaupun adanya
amaran ini, dan walaupun nyatanya, bahwa masuk melalui pintu itu adalah lebih
gampang daripada memanjat pagar, banyak orang memilih untuk mengambil
kesempatan secara menyeludup masuk, mereka berpura-pura memiliki “iman” lalu
dengan demikian masuk ke dalam kandang lalu berharap untuk menguasai atau untuk
memperoleh pengikut. Tetapi adalah tidak mungkin untuk membujuk-bujuk
domba-domba Allah yang asli untuk mengikuti mereka karena domba-domba itu
mengenal akan Suara Gembalanya yang asli.
Hanya
orang-orang yang berhasil masuk melalui Pintu dan kepada siapa “penjaga pintu
itu” (orang yang melalui siapa Roh Nubuat itu dinyatakan) membukakan pintu
adalah gembala-gembala yang dikuasakan, yang suara-suaranya akan didengar oleh
kawanan domba-domba Allah. Semua gembala yang sedemikian inilah yang memanggil
akan domba-domba itu menurut nama-namanya; mereka cukup dikenal oleh kawanan
domba-domba mereka, sebab mereka menaruh perhatian penuh terhadap domba-domba
itu, dan mereka menghantarkan domba-domba itu dengan seksama keluar masuk.
Di sinilah
siswa Kebenaran Sekarang akan mencatat, bahwa oleh gambaran ini Kristus
menunjukkan, bahwa hanya gembala-gembala yang diakui-Nya sebagai milik-Nya
adalah orang-orang yang kepada siapa “penjaga pintu itu” membukakan Pintu lalu
mengundangnya masuk. Para siswa akan juga
mencatat, bahwa semua orang lainnya akan dicap sebagai orang-orang yang masuk
secara menipu. Dan kawanan domba yang mendengar akan suara gembala-gembala yang
palsu ini, kata-Nya, adalah bukan kawanan domba-Nya.
Yohanes 10 : 4 :
“Apabila sudah Ia mengeluarkan segala domba-Nya itu, maka berjalanlah
Ia di depan, maka domba-domba itupun lalu mengikuti Dia, sebab segala domba itu
mengenal suara-Nya.”
Oleh karena
kawanan domba-Nya itu tidak mengenal akan wajah-wajah orang terkecuali bunyi
suara-suara, maka mereka yang menaruh perhatian terhadap wajah-wajah orang dan
yang tidak dapat membeda-bedakan antara bunyi suara yang satu dan lainnya pasti
akan sesat dibawa oleh para gembala palsu. Tetapi mereka yang menaruh perhatian
hanya terhadap Suara itu, yaitu Suara Kebenaran, akan dibawa masuk dengan
pantas bagi perlindungan, dan dibawa keluar dengan pantas ke padang-padang
rumput. Umat Allah tidak memperdulikan persoalan wajah-wajah orang, melainkan
mereka menaruh perhatian yang sungguh terhadap suara-suara pilihan Allah yang
mengucapkan Kebenaran.
Yohanes 10 : 5, 8, 10 :
“Tetapi akan orang asing sekali-kali tiada
akan diikuti mereka, melainkan akan lari mereka daripadanya, sebab tiada
dikenal oleh mereka itu akan suara orang-orang asing ….. Semua orang yang
datang dahulu daripada-Ku, ialah pencuri dan penyamun, tetapi kawanan
domba tidak mendengar akan mereka itu…..
Adapun pencuri itu datang hanya untuk mencuri dan membunuh, dan membinasakan.
Aku ini datang supaya domba itu memperoleh hidup dengan berkelimpahan.”
Kawanan
domba Allah dengan demikian inilah dihantarkan dengan seksama keluar dan masuk,
baik ke dalam kandang maupun kepada “makanan pada waktunya”, yaitu kepada
Kebenaran sekarang. Walaupun demikian, “kawanan kambing” itu, yaitu mereka yang
memperdaya penjaga pintu sambil masuk pasti harus juga melakukan demikian
sambil keluar. Akibatnya, mereka tak akan dapat dibawa oleh para gembala
pilihan Allah. Marilah kita kembali kepada Yohanes 14 dan membaca satu ayat
saja.
Yohanes 14 : 6 :
“Maka kata Yesus kepadanya: “Aku inilah
Jalan dan Kebenaran dan Hidup; tiada seorangpun sampai kepada Bapa, terkecuali
melaui Aku.”
Dari
ayat ini kita saksikan, bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan menuju ke
Kerajaan itu. Jadi, adanya pendapat, bahwa
terdapat banyak jalan sementara sebaliknya hanya ada satu Yesus, dan
bahwa mereka semuanya membawa menuju ke Kerajaan Kekal itu, akan hanya
merupakan suatu “dengungan bohong” yang hanya senang didengar oleh hati yang
tidak suci. Semua itu berasal dari orang-orang yang memperdaya penjaga pintu
itu di Pintu masuk, yaitu dari orang-orang yang mengetahui, bahwa semua
perbuatannya itu tidak akan lolos pemeriksaan.
Jika
kita hendak memiliki sebuah rumah di dalam Kerajaan itu, maka kita hendaknya
jangan sekali berlaku seperti mereka itu. Kita harus mengetahui semua kejelekan
dari persoalan kita. Kita hendaknya jangan sekalipun mengatakan, bahwa jika
“demikian dan demikian” akan sampai ke sana ,
maka kita pun bisa juga. Mungkin itu benar, bahwa jika “begini dan begitu” akan
sampai ke sana ,
maka kita semua menghendaki juga, tetapi “begini dan begitu” tidak akan sampai
ke sana .
Olehnya itu kita hendaknya tidak membodohi diri dengan mengatakan “begini dan
begitu” sebagai suatu misal bagi kita. Kita harus mengikuti Tuhan melalui
Kebenaran-Nya, yaitu Kebenaran yang akan memerdekakan kita.
Sebagaimana
hanya adanya satu Jalan yang benar dan hanya ada satu Pintu, dan oleh karena
semua umat Kristen tidak sama melihat dan tidak bersama-sama berjalan,
mungkinkah itu, bahwa kita semua adalah keliru? Semuanya berjalan menuju suatu
arah yang keliru? Tidak, itu tidak akan pernah jadi selama Tuhan tidak
meninggalkan bumi ini. Sesungguhnya tidak, karena Ia harus memiliki suatu umat
kepada siapa Ia akan mempercayakan Kebenaran-Nya, dan oleh siapa Ia akan
menyelamatkan orang-orang yang memilih berjalan ke jalan-Nya. Jadi, orang-orang
yang memilih berjalan pada jalan-jalan yang lain akan pada akhirnya mendapati,
bahwa setanlah, dan bukan Tuhan, yang berada di belakang mereka itu, dan bahwa
nerakalah, dan bukan Kerajaan itu yang berada di depan mereka itu.
Kita
harus memperbincangkan dengan seksama beberapa saat persyaratan-persyaratan apa
yang harus dimiliki oleh seorang gembala supaya ia dapat lolos melewati
pemeriksaan penjaga pintu. Kalau boleh saya memberikan beberapa ilustrasi, misalnya
hanya dua atau tiga buah ilustrasi untuk itu.
Saudara
ingat, bahwa ada seorang anak yang bernama Samuel yang sejak permulaan masa
hidupnya telah datang berjalan pada “Jalan itu”, dan pada Jalan itulah ia telah
dilatih sejak semula. Sekarang pikirkan
selanjutnya apa yang terjadi. Saudara ingat, pada suatu malam Samuel
secara tiba-tiba dibangunkan oleh suatu Suara. Karena mengira suara itu adalah
suara Eli, maka ia segera meloncat dari tempat tidur lalu pergi menanyakan
kepada Eli. Tentu saja Eli menjadi tercengang, namun dengan tenang Eli
menjawab, “Saya tidak memanggil engkau, kembalilah tidur.” Oleh karena tidak
ada lagi orang lain di sana
selain Eli, Samuel yakin, bahwa orang tua itulah yang memanggil dia. Tetapi
bagaimanapun ia mematuhi lalu langsung ia kembali ke tempat tidurnya.
Walaupun
begitu tak berapa lamanya kemudian, mungkin segera setelah Samuel tertidur
lagi, maka Suara itu memanggil kembali pada kedua kalinya. Saudara ketahui,
bahwa Samuel dapat saja dengan mudah mengatakan kemudian dalam dirinya, “Orang
tua itu pasti sedang bermimpi. Di sinilah ia memanggil saya kembali. Tetapi
saya tidak akan mau mempedulikannya lagi; saya akan membiarkan dia berteriak
sebanyak-banyaknya sekuat-kuatnya.” Tetapi bagaimanapun juga, Samuel seperti
sebelumnya ia secepatnya berlari ke tempat tidur pengasuhnya, hanya untuk
sekali lagi mendengarkan kata-kata, “Kembalilah tidur, saya tidak memanggil
engkau!’’ Masih pada ketiga kalinya ia mendengar seseorang memanggil, maka
dengan rela dan dengan penuh hormat seperti sebelumnya ia pergi ke tempat tidur
pengasuhnya pada ketiga kalinya. Eli pada akhirnya menyadari, bahwa Tuhan pasti
telah memanggil anak itu, maka olehnya itu ia memberi petunjuk kepada Samuel
tentang apa yang harus diperbuatnya. Maka apakah yang dilakukan Samuel?
Tepatlah seperti yang telah dipesankan kepadanya.
Kalau
saja Samuel tidak rela serta tidak sepenuhnya menghargai dan tidak sabar
seperti akan halnya, dapatkah ia pernah sampai pada memegang jabatan yang
tertinggi di negeri itu? Tentu saja tidak, bukan? Tidak ada lagi yang lain
terkecuali persyaratan-persyaratan tabiat
orang suci yang telah didemonstrasikan pada malam itu oleh Samuel yang
telah mempromosikannya kepada jabatan nabi, imam, dan hakim.
Adakah
kita heran mengapa Samuel telah dipanggil keluar dari tidurnya tiga kali terus
menerus, dan mengapakah ia dan Eli telah diganggu pada malam itu? Ada dua alasan : (1)
Untuk membuktikan, bahwa tanpa memikirkan ketidakenakan Samuel tidak akan
ragu-ragu untuk bangkit apabila dipanggil, dan bahwa ia tidak akan marah,
sehingga ia tidak akan berlaku kurang sopan terhadap Eli. (2) Tuhan bermaksud
untuk membantu Eli. Ia hendak menghindari kemungkinan kesimpulan Eli, bahwa
Samuel akan keluar dan akan mempersalahkan kemampuannya untuk mendisiplinkan anak-anaknya
sendiri. Kalau saja Eli tidak diberikan kesempatan itu untuk mengetahui dengan
pasti, bahwa Tuhan telah berbicara dengan anak itu, maka ia dapat saja dengan
mudah mengambil kesimpulan, bahwa Samuel secara diam-diam sedang akan mengambil
tempat kedudukan anak-anaknya Eli itu. Namun oleh peristiwa-peristiwa yang
ditakdirkan itu sebagaimana yang telah jadi, maka Eli telah tentunya mengetahui tanpa ragu-ragu, bahwa
Allah mempunyai sesuatu amanat baginya. Tidak ada tempat bagi keragu-raguan.
Banyak
pemuda pada waktu ini, seperti halnya di masa-masa lalu, adalah
bersungguh-sungguh berusaha untuk berada di mana-mana di dalam hidupnya, tetapi
berjuta-juta mereka gagal mencapai cita-citanya dan banyak yang hancur
hidupnya. Mereka ingin menjadi orang-orang besar, tetapi mereka gagal walaupun
hanya untuk menjadi orang-orang menengah saja. Apakah alasannya? Itu hanya
karena mereka menilai terlalu tinggi kemampuan-kemampuannya sendiri, dan
terlalu rendah kekuasaan Allah. Mereka tidak mengetahui, bahwa dengan Allah
tidak akan ada kegagalan, dan bahwa bersama Dia ‘mereka dapat memperoleh
berbagai kedudukan.
Kamu
pemuda dan pemudi, pasrahkanlah dirimu selengkapnya kepada Allah. Ia memerlukan
orang-orang besar, maka Ia dapat membuatmu menjadi yang sedemikian itu. Apabila
engkau mempelajari jalan Allah lalu menjadi seorang pemuda atau pemudi yang
bertanggung jawab seperti yang dilakukan Samuel, maka Allah tidak akan
mengabaikan semangat cita-cita hatimu, kesungguhan hatimu, dan kejujuranmu. Ia
akan mengaruniakan kepadamu sesuatu yang besar bagi imbalanmu. Sesungguhnya,
engkau akan kelak menjadi besar.
Daud
di masa lalu pun adalah seorang pemuda dan tidak lebih daripada seorang gembala
biasa. Tetapi ia adalah seorang gembala yang baik, yang terbaik di negeri itu.
Allah melihat, bahwa ia adalah cukup awas dan setia pada tugas-tugasnya, maka
demikian itulah Ia memutuskan untuk menjadikan pemuda itu raja atas umat-Nya.
Sesungguhnya, apabila seseorang melakukan sesuatu perkara dengan baik, maka
mungkin sekali, bahwa ia akan melakukan perkara lainnya juga sama baiknya. Daud
adalah sama baiknya terhadap kewajiban-kewajibannya seperti halnya Samuel
terhadap tugas-tugasnya. Itulah sebabnya ia telah diangkat dari kandang domba
dan lalu ditempatkan di dalam istana.
Saya sedang pikirkan dari hal seorang pemuda
yang lain, yaitu seorang muda remaja Yusuf. Tuhan melihat sesuatu di dalam
dirinya yang tidak dapat dilihat-Nya di dalam diri kakak-kakaknya Yusuf. Bukan
saja ia adalah putera kesayangan ayahnya, tetapi ia adalah kesayangan Allah
juga. Allah memikirkan sesuatu yang besar bagi Yusuf, yang lebih besar daripada
apa yang yang dunia pernah pikirkan. Untuk membuktikan dirinya sendiri sebagai
seorang yang dapat dipercaya, maka Yusuf harus pertama-tama menjadi budak. Ia harus dilatih untuk pekerjaan yang
besar itu.
Demikian
itulah takdir Ilahi berlaku, maka terjadilah, bahwa saudara-saudaranya telah
menjual dia sebagai seorang budak. Maka pada waktu itulah teringat dia akan apa
yang Tuhan telah janjikan kepadanya didalam mimpi, bahwa disamping semua
saudaranya, termasuk pula ayah dan ibunya, mereka akan menyembah sujud
kepadanya. Dapatlah Saudara bayangkan betapa suatu kesempatan yang gampang
baginya untuk menghojat Allah sewaktu ia mendapatkan dirinya sendiri sedang
akan mengalami nasib perbudakan! Ia mungkin dapat saja mengatakan, “Mengapa
saya harus berbakti kepada sesuatu Allah yang menjanjikan kemuliaan, tetapi
ternyata memberikan kehinaan, kesukaran, dan pengasingan?” Tetapi Yusuf telah
berlaku dengan bijaksananya seperti halnya Ayub; oleh menyucikan Allah di dalam
hatinya, maka ia secara tegas mengatakan, “Walaupun Ia
memalu akan daku; tetapi di dalam Dialah aku akan percaya.”
Yusuf
secepatnya pasrah kepada keadaan lingkungannya; ia yakin, bahwa Allah bapanya
itu mengetahui semua dari hal segala penderitaannya. Demikian inilah para
pemilik budaknya, yaitu orang-orang keturunan Ismael itu, segeralah mereka
mengetahui, bahwa mereka sedang memiliki seseorang budak yang bagus, yaitu
seseorang budak yang dapat dijual dengan harga yang tinggi. Bagaimanakah dapat
saya mengetahui ini? Saya mengetahuinya, sebab orang-orang keturunan Ismael itu
telah membawanya langsung kepada seseorang yang hanya mau membeli yang terbaik,
yaitu kepada orang-orang yang terkaya di Mesir, yaitu kepada orang yang dapat
membayar untuk harga yang tinggi itu.
Saudara mengetahui, bahwa orang-orang kaya tidak akan membeli
barang-barang yang murah. Demikian pula para pedagang tidak akan menawarkan barang-barang yang murah kepada
mereka.
Walaupun
sementara di dalam kesedihan, Yusuf pasti sudah dapat menunjukkan kemampuannya
untuk melayani, dan sudah dapat
menunjukkan hormatnya yang tinggi kepada para penguasa perbudakannya selama
dalam perjalanannya ke Mesir, sebab pada waktu itulah para pedagang akan
mengetahui nilai harganya budak mereka, dan akan menyadari, bahwa mereka dapat
menjualnya kepada seseorang yang menyukai sesuatu yang bagus dan yang dapat
membayar untuk harganya. Potiphar pun segera mengetahui, bahwa Yusuf dalam
segala hal adalah dapat dipercaya. Dengan demikian itulah, maka ia telah
menjadi orang nomor satu dari Potiphar. Bahkan nyonya Potiphar sendiri telah
jatuh cinta padanya. Adalah pada keadaan yang genting inilah, Saudara ingat,
bahwa ia telah sampai kepada puncak ujian penamatannya. Dengan lulusnya dia
pada ujian terbesar hidupnya ini, maka luluslah dia dari rumah Potiphar,
kemudian dari rumah penjara, oleh mana ia telah diangkat menduduki tahta
pemerintahan Mesir, yang terbesar di dunia. Baik dalam pengangkatannya kepada
kedudukan yang tinggi, maupun dalam kejatuhannya dalam penderitaan perbudakan
Yusuf telah memuliakan Allah dan telah melaksanakan segala kejujurannya yang
terbaik.
Di
dalam hal apapun ia ditempatkan, ia adalah selalu nomor satu, maka demikian
itulah ia telah menjadi yang terbesar di antara semua yang hidup di bumi.
Dari
hal rahasia keberhasilannya yang sebenarnya akan dapat Saudara jumpai dalam
suatu prinsip yang sederhana, yaitu teguh melawan pencobaan untuk berbuat dosa,
dan setia kepada kewajiban : “Wah!” Saya tak dapat melakukan perkara yang jahat
ini. Saya tidak akan mau berdosa baik melawan manusia maupun melawan Allah”,
demikianlah jawabannya terhadap pencobaan.
Inilah
sebabnya mengapa Yusuf adalah terbesar di dalam rumah tangga bapanya, di dalam
tawanan orang-orang keturunan Ismael itu, di dalam rumahnya Potiphar, di dalam
kamar penjara, di atas tahta firaun, dan di seluruh dunia. Inilah sebabnya
mengapa semua penduduk bumi yang lalu telah menyembah sujud kepadanya.
Dari
bukti-bukti pengalaman hidup orang ini terlihatlah, bahwa prinsip-prinsip yang
sederhana yang telah membawa keberhasilan kepada Samuel, kepada Daud dan kepada
Yusuf, secara tak meragukan dapat pula membawa sukses kepada kita semua. Dan
supaya diingat, bahwa kesuksesan itu dimulai segera di manapun kita kebetulan
berada, apakah itu di dalam kaabah, atau di tengah-tengah kawanan domba, atau
di dalam perhambaan tuan pemilik budak, atau di dalam penjara, atau di dalam
istana raja, di manapun saja tidak ada bedanya. Saudara tidak perlu
berlari-lari mengejar kesuksesan, tetapi Saudara perlu sekali membungkuk untuk
mengambil kesuksesan itu. Sebenarnya sukses itu jatuh dari langit, namun untuk
mengambilnya Saudara harus membungkuk sampai rendah sekali. Inilah yang harus
Saudara lakukan jika Saudara ingin betul-betul sukses di dalam segala hal.
Sekarang
ini Tuhan sedang memberikan tawaran kesempatan bagi sedikitnya 144.000 orang
yang akan menjadi penyelamat manusia, yang akan bermarkas besarnya di Gunung
Sion yang terkenal itu, yaitu suatu jabatan yang lebih besar daripada yang
pernah oleh dipegang Yusuf dahulu. Maukah Saudara menjadi salah satu dari
mereka itu? Ada
banyak kesempatan yang lebih besar pada waktu ini daripada yang pernah ada
sebelumnya di masa lalu. Mengapakah tidak berusaha di dalam sesuatu usaha yang
di dalamnya tak terdapat usaha untung-untungan? Siapapun saja dalam hal ini
dapat berhasil jika ia mau memenuhi harganya.
Melihat
kepada pilihan-pilihan yang tidak akan keliru ini, maka mengapakah orang-orang
muda pada dewasa ini adalah demikian sembrono dan acuh tak acuh sikapnya?
Mengapakan demikian halnya? Mereka bukanlah pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi
yang jelek. Mereka telah dilahirkan dalam alam yang sama seperti halnya setiap
generasi yang lain. Sesungguhnya mereka yang ada di sini adalah pemuda-pemuda
dan pemudi-pemudi yang baik, namun mereka perlu dilahirkan kembali, yaitu
dilahirkan oleh Roh, menjadi berobah dan dibuat menjadi dapat melihat.
Orang-orang
muda secara alamiah adalah buta terhadap perkara-perkara rohani sama seperti
halnya anak-anak kucing yang baru lahir buta terhadap benda-benda. Orang-orang
muda perlu dididik mengenai jalan kehidupan kerohanian. Perlu dikeluarkan dari
diri mereka keinginan-keinginan dosa alamiahnya, dan ditanamkan di dalam mereka
suatu alam kebencian terhadap dosa.
Teladan
kita yang terbesar telah turun dari sorga ke bumi ini, berjalan dan bekerja
bersama-sama dengan manusia tiga puluh tahun lamanya, mati dan telah bangkit kembali.
Semua ini dilakukannya dengan tujuan untuk merobah manusia, untuk mengembalikan
peta Allah di dalam mereka, dan untuk memberikan kepada mereka hidup untuk
selama-lamanya. Jika pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi ini melaksanakan
usaha-usaha yang perlu bagi diri mereka sendiri, maka kita tentunya dengan
bergembira harus menolong mereka supaya mereka dapat mencapai tujuan-tujuannya.
Saudara-saudara,
laki-laki dan wanita, telah datang ke sini, bukanlah karena seseorang telah
membawamu ke sini, tetapi karena kesadaranmu sendiri akan tugasmu. Bagaimanapun
juga Saudara telah membawa bersama semua anak-anak kecil ini. Jadi demikianlah
Saudara-saudara telah datang masuk melalui “Pintu”, tetapi pemuda-pemuda dan
pemudi-pemudi ini datang di dalam barang-barang bawaanmu. Maka sekarang, jika
mereka hendak menjadi anggota-anggota yang tetap di dalam “kandang domba” ini,
mereka juga harus menjalani ujian. Saudara melihat, mereka akan menjalani
perjuangan mereka sekarang sama seperti halnya Saudara-saudara orang-orang dewasa
telah menjalani perjuangan-perjuanganmu sebelum Saudara-saudara datang ke sini.
Maka seperti halnya seseorang telah memberikan bantuan usaha bagi Saudara di sana , sekarangpun Saudara
harus memberikan bantuan usaha bagi anak-anak muda itu di sini.
Kita
memerlukan penginjil-penginjil orang-orang muda, yaitu pemuda-pemuda dan
pemudi-pemudi yang bertobat untuk bekerja bagi orang-orang yang belum bertobat,
untuk melaksanakan bentuk pengaruh-pengaruh yang benar terhadap pemuda-pemuda
dan pemudi-pemudi lainnya. Ini adalah penting, sebab pemuda pemudi yang
bertobat dan berbuat lebih banyak bagi orang-orang muda sesamanya daripada yang
dapat dibuat oleh orang-orang yang lebih tua. Lagi pula kita memerlukan
orang-orang muda laki-laki dan perempuan untuk membantu pemuda-pemuda dan
pemudi-pemudi dalam pekerjaan memenangkan jiwa-jiwa, bukan untuk berkhotbah
kepada mereka, melainkan untuk memimpin mereka.
Saudara
saksikan bagaimana pemuda-pemuda itu berkerumun mengelilingi Saudara D ---
sewaktu ia berada di sini. Kalau saja D --- telah bertobat, kalau saja ia telah
mengambil keputusan untuk melayani Allah seperti yang dilakukan Daud di masa
lalu, maka bayangkanlah betapa suatu kuasa bagi kebaikan yang dapat
dimilikinya. Ia sudah akan menjadi suatu pengaruh yang mentakjubkan bagi
kebaikan diantara orang-orang muda itu. Ia sudah akan menjadi seorang pemimpin
besar. Ia memiliki kesempatan yang sama besarnya seperti yang dimiliki setiap
orang besar milik Allah di masa lalu. Tetapi kesempatan yang dipunyai oleh D
--- itu, dipunyai juga oleh setiap pemuda dan pemudi. Seorang pemuda atau
pemudi yang bertobat dapat membalikan suatu percakapan yang jelek dan yang
tidak menguntungkan menjadi suatu percakapan yang pantas. Suatu teladan yang
baik dapat berbuat lebih banyak daripada sebuah khotbah.
Saudara-saudara
pemuda dan pemudi, ada suatu kesempatan bagimu untuk masuk berusaha dengan
Allah, serta untuk mempersiapkan pikiranmu bagi apa yang dikehendaki olehmu.
Kamu tidak wajib memulai sebagai seorang pendeta, tetapi kamu dapat segera
sekarang juga menjadi penginjil-penginjil sosial. Kamu pemuda pemudi dapat
membalikkan pemuda pemudi lainnya daripada kebodohan mereka, daripada semua
kegiatan-kegiatan mereka yang tidak bijaksana serta daripada semua percakapan
mereka yang jahat. Orang-orang lain akan mengikuti teladanmu. Betapa besarnya
suatu kesempatan bagimu kalau saja mau Saudara menggunakan kesempatan itu.
Kita
semua rindu melihat kamu pemuda dan pemudi memiliki suatu kesempatan yang baik.
Kita merasa jemu karena mengenakan pembatasan ini dan itu kepadamu.Tegakkan
kepercayaan-kepercayaan kami di dalam dirimu, maka dengan begitu kamu akan
membebaskan dirimu dari peraturan-peraturan dan pembatasan-pembatasan.
Jika
kamu dapat menunjukkan kepada kami, bahwa kamu telah memutuskan untuk menjadi
seperti halnya Samuel dan Yusuf, maka kami tidak akan perlu khwatir mengenai
apa yang kamu perbuat ataupun ke mana kamu pergi. Ya, tegakkan kepercayaan kami
di dalam dirimu, maka kamu tidak akan pernah diganggu oleh kami. Adalah hanya
oleh kepercayaan seseorang di dalam dirimu, maka kamu dapat memperoleh apa saja
dengan bagaimanapun juga caranya.
Yusuf
dan Samuel telah melakukan perkara yang penting. Mereka menetapkan seluruh
perhatiannya kepada apa saja yang dilakukannya. Semua orang besar di dunia ini
melaksanakannya, maka itulah sebabnya mereka adalah besar. Apapun juga yang
kamu pemuda pemudi lakukan, lakukan itu dengan sungguh-sungguh. Jangan
meremehkan itu. Pada akhir dari setiap
hari anda akan dapat mengatakan, “Tugasku sudah hampir rampung, dan semua
perbuatanku tidak dapat diragukan.” Inilah yang dapat anda lakukan. Pergilah
kepada “Pintu” itu, lalu ceritakanlah kepadanya segala keperluanmu dan segala
pencobaanmu Katakanlah, “Tuhan, kesulitanku adalah kesulitan-Mu. Aku tidak mau
membiarkan lagi mereka menggangguku. Aku hendak menetapkan hati dan jiwaku
kepada pekerjaan-Mu.”
Lakukanlah
ini, Saudara-saudara pemuda dan pemudi, maka kamu akan menyaksikan
perkara-perkara yang berbeda secara menakjubkan. Kamu akan menyaksikan, bahwa
semua jalan-jalanmu yang lalu itu adalah jalan-jalan kebodohan. Kamu akan
mengatakan kepada dirimu sendiri, “Tidakkah aku seorang tolol besar yang
melakukan itu dan lainnya?” Saya mengerti apa yang saya sedang bicarakan. Saya
mengatakan ini kepadamu dari pengalaman.
Mengapakah
banyak orang yang berjalan pada jalan raya? Sebab di sanalah anda akan dapat
menjadi sesuatu. Tetapi pada jalan yang sempit anda harus menjadi sesuatu yang
betul-betul besar.
Sejumlah
pemuda dan pemudi tidak lagi berada dengan kita, sebab mereka telah memutuskan
untuk terus berjalan pada jalan raya. Mereka mungkin memperoleh beberapa
kepuasan di sana ,
namun mereka sedang menuju kepada suatu ujian yang besar, dan bagi suatu
kerugian yang besar pula. Kecuali semua yang belum “dilahirkan kembali” itu
kembali kepada dirinya sendiri seperti yang dilakukan oleh anak pemboros itu,
maka mereka akan terus berjalan sampai kepada akhir daripada jalan raya itu.
Lalu apa selanjutnya? Setan di belakang dan sebuah jurang besar di depan. Akan
kelak terjadi tangisan dan keretak gigi. Mengapakah anda terus berjalan pada
jalan orang-orang bodoh?
Adalah
lebih baik tidak melangkahi kesempatanmu sementara ada bunyi ketokan pada
pintumu. Tempuhlah “jalan yang lurus” itu dan tinggallah di sana , maka kamu akan memiliki kebahagiaan dan
kepuasan sepanjang hari umur hidupmu. Engkau tidak akan lagi berkekurangan
maupun menyesal. Pikiran yang penuh damai inilah yang engkau perlukan.
Mengapakah tidak engkau menempuhnya?



Tidak ada komentar:
Posting Komentar