Kejadian 3 :
17 :
“Maka kepada Adam firman-Nya, karena engkau
telah mendegar akan kata istrimu, serta
sudah makan buah pohon, yang telah Kupesan kepadamu, jangan engkau makan dia,
maka terkutuklah bumi itu karena sebab engkau, maka dengan kesusahan engkau
akan makan hasilnya seumur hidupmu.”
Setelah Adam jatuh dalam
dosa, maka apakah dikatakan Tuhan kepadanya? --- “Oleh sebab engkau telah
mendengar akan suara istrimu, telah melakukan apa yang tidak boleh kau lakukan,
serta telah makan buah pohon yang sudah Ku pesankan kepadamu untuk tidak
dimakan, maka karena alasan inilah terkutuklah bumi itu, bukan melawan
kamu, melainkan demi kamu.”
Kesalahan, yang adalah lawan
dari Kebenaran, mungkin akan mengatakan, ‘Berbahagialah bumi itu demi kamu’.
Dan sebagai gantinya mengatakan, ‘Dengan kesusahan engkau akan makan
hasilnya seumur hidupmu’. Kesalahan akan mengatakan ‘Dengan suka cita engkau
akan makan hasilnya seumur hidupmu’. Dengan kata lain, sementara Allah mengucapkan
suatu kutuk, maka Setan dalam keadaan yang sama akan mengucapkan suatu berkat.
Demikianlah halnya, bahwa dunia secara alamiah dikendalikan oleh suara Setan,
mengharapkan untuk hidup berbahagia seumur hidupnya. Walaupun sedang terdapat
berlimpah kesusahan di dalamnya.
Kejadian 3 :
18 :
“Maka bumi itu
akan menumbuhkan bagimu duri dan onak, dan sayur-sayuran di ladang akan menjadi
makananmu.”
Tentu saja Setan akan
mengatakan, ‘Bunga-bunga mawar dan kembang-kembang akan dihasilkan bagimu’. Dan
gantinya memerintahkan, ‘Engkau akan makan sayur-sayuran di ladang’. Ia akan
mengatakan ‘Engkau akan makan apa saja yang kau jumpai di ladang’. Begitulah,
ia tidak akan mengatakan sedemikian itu seperti yang terdapat di dalam buku,
melainkan ia akan mengatakannya sesuai dengan yang terdapat di dalam hati semua
yang hidup, maka mereka dengan sungguh-sungguh akan mematuhi suaranya.
Kejadian 3 :
19 :
“Maka dengan
berkeringat mukamu engkau akan makan rejekimu sampai engkau kembali kepada
tanah, karena daripadanya engkau telah diambil; bahwa habulah adamu, maka
kepada habu pun engkau akan kembali.”
Setan akan mengatakan:
“Dengan kesukaan engkau akan makan rejekimu sampai kelak oleh proses evolusi
engkau akan menjadi seperti Allah; karena dari sesuatu atom kecil yang tak
berarti engkau telah diambil keluar, dan kepada suatu Allah yang maha kuasa
engkau akan bertumbuh secara evolusi jika engkau terus berlanjut.
Walaupun begitu apakah yang
Allah katakan? Dengan berkeringat mukamu engkau akan makan rotimu pada sepanjang
hari umur hidupmu, artinya, karena sebabmu sendiri engkau kini akan mengalami
kesusahan dalam usaha hidupmu, maka engkau dengan begitu boleh menyesuaikan
dirimu dengan hal itu. Walaupun yang sedemikian ini bukanlah nasib manusia
sebelum ia berdosa, tetapi ini telah menjadi nasibnya segera setelah ia dibawa
keluar dari Taman itu, yaitu segera setelah
diterimanya kutuk itu.
“Tetapi”, pertanyaanmu,
“mengapa telah Allah rencanakan, bahwa kita semuanya wajib berjalan melalui
kesusahan dan penderitaan sebelum kita akan dibawa kembali ke dalam Eden ? Jika Ia akan
membawa kita kembali, maka mengapakah tidak Ia lakukan itu sejak pada mulanya,
yaitu di masa hidupnya Adam?” Jawaban untuk semua pertanyaan ini adalah
terdapat di dalam
Lukas 15 :
11-13 :
“Maka kata Yesus : “Ada
seseorang yang mempunyai dua anak laki-laki; maka kata yang bungsu itu kepada
bapanya : ‘Ya, Bapa, berilah aku bagian harta yang jatuh kepadaku’. Maka
dibagikannya harta kepada kedua-duanya. Tiada berapa lama kemudian daripada
itu, maka anak yang bungsu itupun mengemaskan sekaliannya, lalu pergi ke negeri
yang jauh, lalu di sanalah diboroskannya segala hartanya itu dengan cara hidup
yang tidak teratur.”
Ceritanya adalah, bahwa
terdapat dua anak laki-laki di dalam keluarga itu. Anak yang tertua memilih
tinggal di rumah, tetapi yang muda memilih untuk pergi keluar. Dan Saudara
ketahui apa yang telah jadi kemudian segera sesudah itu; anak yang termuda itu
telah menghabiskan semua harta miliknya dengan cara hidup yang tidak teratur.
Saya yakin, bahwa ayahnya
cukup mengetahui sebelumnya, bahwa anaknya itu telah pergi dan akan mengalami
kesusahan. Ia mencintai dia dan ingin untuk menyelamatkannya dari kehinaan,
kesusahan, dan cobaan hidup yang berat yang sedang akan ditujunya.
Kenyataannya, bahwa sekembalinya anak itu, ayahnya telah pergi menyambut dia
semenjak dia masih jauh dari pintu, lalu mempersiapkan suatu pesta baginya,
walaupun setelah ia menghabiskan harta benda bapanya serta mempermalukan nama
keluarganya, adalah cukup membuktikan, bahwa ayahnya betul-betul sangat
mencintainya. Anak itu telah dibiarkan meninggalkan rumah tak lain hanya karena
pengalamannya sendiri yang akan menunjukkan kebodohannya, serta akan
membuktikan cinta ayahnya terhadap dia.
Apakah yang telah mendorong
anak itu membenci rumahnya? Adalah keinginannya sendiri untuk hidup secara tak
teratur. Tidak ada seorang pun anak laki-laki atau pun anak perempuan dalam
keadaan yang sama pergi meninggalkan rumah kecuali mengharapkan memperoleh
kebebasan dan untuk mempraktikan hidup yang tidak teratur, untuk berbuat
sekehendak hatinya apa saja yang diinginkan oleh hatinya yang jahat untuk
dilaksanakan.
Mungkin ada banyak
kesenangan yang bersifat sementara dalam kehidupan pemborosan, namun itu hanya
akan berakhir dalam kehinaan dan malu. Kalau saja anak laki-laki pemboros itu
hidup di masa kita sekarang, maka bagaimanakah pendapat anda dari halnya,
apakah yang kira-kira akan mulai dilakukannya pada kegembiraan di jalan raya,
untuk mendapatkan waktu yang menyenangkan baginya? Perkara yang pertama sekali
akan dilakukannya pastilah, jika mungkin, membeli mobil, membeli baju-baju yang
bagus, membeli sebuah cincin berlian, membeli suatu jepitan dasi yang
berkilau-kilauan, dan membeli sebuah arloji tangan. Oh, ya, ia mungkin sekali
tidak akan lupa menyematkan sebuah kembang pada leher bajunya dan sebuah
saputangan sutera di dalam sakunya. (Mungkin tidak ada salahnya memiliki
beberapa dari benda-benda ini, tetapi itu tentunya tidak perlu atau pun bahkan
tidak tentu memenuhi selera untuk menghiasi diri seseorang dengan apa saja yang
dapat dipakai). Sedikit-dikitnya untuk itu orang akan mengatakan lucu karena
menghiasi diri dalam mode burung merak.
Dan siapakah yang akan
diikuti oleh anak laki-laki itu? Tentunya para gadis. Dan kemanakah mereka akan
pergi? Tentunya bukan kemana para pengkhotbah pergi, dan juga bukan ke gereja.
Lukas 15 : 14 :
“Setelah dihabiskannya semuanya
itu, maka timbullah suatu bela kelaparan yang hebat di negeri itu; maka iapun
mulai merasa kekurangan.”
Jika Saudara telah membelanjakan
semua yang Saudara miliki dan semua yang sudah Saudara peroleh, maka Saudara
pun, cepat atau pun lambat kelak akan kelaparan juga. Takdir Tuhan telah
mendatangkan kelaparan itu supaya membawa kembali anak laki-laki itu kepada
‘dirinya sendiri’, yaitu kepada kesadaran pribadinya. Sebenarnya, tidak ada anak yang akan lari
meninggalkan rumahnya apabila ia berada di dalam dirinya sendiri; dan
sebaliknya, ia pun tidak juga akan kembali pulang dengan sadar sebelum ia
datang kepada dirinya sendiri. Demikianlah ia belajar akan pelajarannya
sendiri, tetapi betapa mahalnya! Betapa mahalnya!
Lukas 15 : 15, 16 :
“Lalu pergilah ia dan
menggabungkan dirinya kepada seseorang penduduk negeri itu; maka orang itu
menyuruh dia ke ladang-ladangnya untuk memelihara babi-babi. Maka inginlah ia
untuk mengisi perutnya dengan ampas kulit yang dimakan babi-babi itu; maka tak
seorangpun memberikannya kepadanya.”
Benar pemboros itu
memperoleh pekerjaan, tetapi itupun tidak dapat ‘mengenyangkan perutnya’, ia
masih tetap kurang.
Lukas 15 : 17-19 :
“Maka apabila sadarlah ia, maka katanya,
Betapa banyak orang-orang upahan Bapaku memiliki roti yang cukup serta
berlebih-lebihan, tetapi aku di sini binasa dengan kelaparan. Aku hendak
bangkit dan pergi kepada Bapaku, maka aku akan mengatakan kepadanya, Bapa, aku
telah mendurhaka melawan sorga, dan di hadapanmu, maka aku tidak lagi patut
untuk disebut anak olehmu; jadikanlah aku salah satu daripada hamba-hamba
upahanmu itu.”
Ia pada akhirnya menyadari;
bahwa ia telah bermain-main dengan kebodohan, maka demikian itulah ia mulai
memikirkan di dalam dirinya bagaimana caranya ia kembali pulang, sambil
mengatakan: ‘Cobalah pikirkan berapa banyak hamba upahan yang berada di rumah
bapaku, dan mereka semuanya berkelimpahan. Mengapakah harus aku binasa di sini
dengan kelaparan? Tetapi apakah yang akan kukatakan apabila aku tiba di sana ? Sambil sadar akan
dirinya, maka ia merasa, tentu, bahwa ia harus mengatakan perkara yang benar,
yaitu perkara yang akan membenarkan dia baik ke hadapan sorga maupun kepada
bumi.
Kalau saja anak itu telah
berpegang kepada nasehat bapanya sebelumnya, maka ia tidak akan mengalami
penghinaan. Dan betapa besar penghinaan itu! Dan betapa besarnya pelajaran itu
juga, bukan hanya bagi orang-orang muda, melainkan juga bagi orang-orang tua.
Ada beribu-ribu orang, baik muda maupun tua yang mempelajari ajaran-ajaran
hebat besar, tetapi mereka sering kali membayar suatu harga yang besar hanya
karena mereka selalu mendengar kepada ‘kebodohan’-nya iblis. Mengapakah mereka
itu begitu gampang dibawa pergi oleh bujukan-bujukannya? Hanya karena umpannya
yang menarik itu mempesona kepada sifat mementingkan diri dan sifat dosa
manusia.
Kehinaan dari si pemboros
itu sedang menunggui semua orang muda yang tidak mengambil manfaat dari nasehat
orang-orang yang lebih tua, dan semua orang tua yang tidak mengambil manfaat
dari petunjuk-petunjuk Tuhan. Inilah salah satu dari hukum-hukum Allah yang tak
seorang pun pernah dapat mengelaknya.
Pengalaman dari si pemboros
itu kini menjawab pertanyaan-pertanyaan. Mengapa Allah menyingkirkan Adam
keluar dari Taman itu? Oleh karena
bagaimanapun Allah akan memaafkan juga dia pada sesuatu waktu, maka mengapakah
tidak Ia memaafkan dia segera setelah kejatuhannya lalu membawa kembali dia ke Eden ? Mengapakah tidak
dapat semua umat manusia diselamatkan sedemikian daripada melalui penderitaan
dan kematian sebelum mereka kembali ke Eden ?
Kalau saja Allah telah
memperbolehkan Adam dan Hawa untuk menetap di dalam Taman itu sesudah mereka
berdosa lalu membiarkan mereka terus mencapai ‘pohon kehidupan’ itu, maka
olehnya Ia sudah akan mempertahankan kekekalan kehidupan mereka yang berdosa
itu di dalam keadaan dosa mereka. Betapa berbahaya keadaannya, kalau saja
orang-orang berdosa terus hidup kekal selama-lamanya! Dan kalau saja Ia tetap
memelihara mereka berikut semua keturunannya daripada mengalami kesengsaraan
dan kematian, maka mereka tidak lagi dapat sampai menyadari akan apa artinya
kehidupan yang berdosa itu. Tidak lagi dapat mereka mengerti apa arti dosa itu,
seperti akan halnya si pemboros itu sebelum ia mengalami kerisauan,
kebangkrutan, kerja keras dan kemelaratan.
“Tetapi”, katamu, “Jika
Tuhan tak dapat membawa Adam dan Hawa ke dalam Taman
itu sebelum terlebih dulu mereka melewati kematian dan kebangkitan, maka
mengapakah Ia harus mengutuki bumi dan membiarkan mereka memperoleh rotinya
dengan peluh mukanya?” Dan mengapakah Ia harus membiarkan mereka memakan
rotinya dengan penuh kesusahan selama 6000 tahun lamanya? Sebab semua orang yang pernah akan memasuki
Kerajaan itu, yaitu kembali ke dalam Eden, wajib terlebih dulu kembali kepada
dirinya sendiri seperti yang dilakukan oleh anak pemboros itu, sebab semua
orang harus dibuat insyaf, bahwa apa saja yang di luar daripada Taman itu
adalah tidak lebih daripada makanan-makanan babi saja.
Sebab bekerja adalah
penting dan karena orang-orang berdosa pada hakekatnya tidak menyukai
pekerjaan, maka duri dan onak telah diciptakan untuk memaksa mereka untuk pergi
bekerja bagi hidupnya. Jika kita membiarkan rumput-rumput yang tidak layak itu
di tanah lalu kita menghabiskan waktu kita dengan berfoya-foya saja, maka
semuanya itu akan menghancurkan panen kita, sehingga kita seperti halnya anak
pemboros itu akan kelak mengalami kelaparan. Jadi, tidak bekerja tidak makan.
Allah yang maha mengetahui mana yang terbaik bagi kita telah membuatnya supaya
kita memperoleh hidup kita dengan jalan yang sukar, supaya kita bekerja
sepanjang hari dengan hanya sedikit saja istirahat.
Orang-orang yang kembali
kepada dirinya sendiri, maka bekerja bagi mereka adalah yang menyenangkan.
Hanya orang bodoh yang tidak suka bekerja.
Sebelum peralatan-peralatan
mesin modern diciptakan para petani tidak banyak diganggu oleh gangguan hama seperti halnya di
waktu ini. Tetapi justru sebagaimana peralatan mesin makin meningkat dan makin
disempurnakan, maka demikian pula meningkatnya hama . Lalu untuk alasan apakah itu? Supaya
tetap membuat kita bekerja, dan dengan demikian itu untuk mencegah kerugian.
Pada waktu saya datang ke
Amerika Serikat beberapa tahun lalu, saya melihat berbagai macam mesin, yaitu
mesin-mesin yang dapat melaksanakan banyak pekerjaan dalam jangka waktu pendek
saja. Tetapi bersama-sama dengan semua peralatan yang menyenangkan ini apakah
lagi yang saya lihat? Saya melihat duri dan onak berkembang seribu kali
berlipat ganda, bahkan hama
dari berbagai jenis merusak panen.
Dalam Negeri Tua (Old
Country) yang lalu kami tidak memiliki peralatan mesin, namun kami tidak perlu
menyemprot terhadap sesuatu tanaman. Mengapa? Sebab bekerja tanpa mesin orang
cukup sibuk sebagaimana seharusnya. Jika mereka seharusnya berperang juga
melawan hama ,
lalu tanpa menggunakan apapun untuk memeranginya, maka tentunya mereka sudah
tidak menarik hasil apa-apa dan sudah pasti akan kelaparan. Jadi, tampaklah,
bahwa jika peralatan mesin membebaskan kita dari bekerja, maka Allah akan
mengirimkan hama-hama itu untuk membawa kita kembali bekerja.
Tuhan perintahkan, bahwa
kita harus dengan keringat memperoleh roti kita, namun Ia mengetahui bahwa
kebanyakan dari kita tidak akan berbuat begitu jika kita tidak terpaksa untuk
berbuat. Dan Ia juga mengetahui, bahwa jika kita tidak banyak memiliki apa yang
harus dilakukan, maka kita akan terjerumus ke dalam celaka, ke dalam hidup yang
tidak teratur, sehingga akibatnya tidak pernah dapat kita kembali kepada diri
kita sendiri, dan tidak pernah kembali ke Eden. Oleh karena itu Ia telah
mengutuki bumi demi untuk kebaikan kita.
Lagi pula, bagi wanita yang
duduk-duduk dan hanya sedikit bertindak mengurusi rumahnya, Allah mendatangkan
kutu-kutu tempat tidur dan kecoak, tikus-tikus kecil dan besar, lalat-lalat dan
semut-semut, berbagai kutu, dan juga nyamuk. Semua ini akan membawanya untuk
bekerja baik di dalam maupun di luar jika diperlukan.
Kalau bukan itu bagi
penyakit-penyakit menular, maka apakah yang akan jadi dengan manusia! Saudara
saksikan, bahwa Allah membuat semua perkara ini untuk suatu maksud yang baik,
namun walaupun oleh dorongan penularan penyakit-penyakit itu kepada mereka yang
malas untuk bangun dan bergerak, tetap masih ada orang-orang yang menyukai
hidup bagaikan babi-babi. Mengapakah menunggu sampai Ia mendatangkan bala
tentara besar benih-benih penyakit menular-Nya? Mengapakah tidak mematuhi
nasehat-Nya, terus menyibukkan diri, serta melakukan apa saja yang dapat kau
lakukan untuk membuat orang-orang lain berbahagia, untuk menjadikan dunia lebih
baik daripada keadaannya, untuk membuatnya mengetahui, bahwa engkau berada di
dalamnya untuk melakukan yang baik baginya, bukan merupakan beban baginya?
Kemudian malaikat-malaikat akan bersukaria berkemah disekeliling, lalu Tuhan
sendiri akan datang dan makan sehidangan dengan kamu.
Jika kita jadikan
usaha-usaha Allah menjadi usaha kita sendiri, kita menjadikan Kerajaan-Nya itu
rumah kita, maka segala perkara lainnya yang kita sedang perjuangkan dan yang
sedang kita khawatirkan itu akan dilengkapi kepada kita dengan berkelimpahan.
Kemudian marilah kita tinggalkan bentuk Kristen lahiriah dan kekapiran
batiniah, supaya kita menjadi orang-orang yang tidak ‘memiliki tipu di dalam
mulut’ dan yang memiliki’daun kurma di dalam tangan.’
Mengapakah manusia harus
menunggu selama 6000 tahun baru dapat ia kembali ke Eden ? Diperlukan waktu selama itu adalah
untuk memperoleh sejumlah besar yang cukup dari anak-anak pemboros yang bertobat,
yaitu anak-anak pemboros yang telah kembali kepada dirinya sendiri, yang
menyadari bahwa adalah lebih baik menjadi penjaga pintu di rumah Bapanya
daripada terjerumus dalam berfoya-foya jauh dari rumah-Nya. Allah tidak akan
membawa kembali seorang pun dari pada kita ke dalam Eden dengan alam pikiran kita yang dibawa
sejak lahir. Ia tidak akan membawa kembali Adam ke dalam Eden dengan alam kejatuhannya itu. Semua
orang harus kembali kepada dirinya sendiri. “…… kepicikan itu tidak akan timbul sampai dua kali.” Nahum 1: 9.
Sekarang dapatlah kita
lihat mengapa adalah lebih muda bagi seekor onta berjalan melalui lubang jarum
daripada bagi seorang kaya untuk dapat masuk ke dalam Kerajaan itu. Hanya
anak-anak pemboros yang oleh pengalamannya menginsyafi, bahwa dunia ini
bukanlah rumah Bapa mereka, hanya orang-orang yang memulai kembali ke Eden dengan cara berpikir
yang sama serta dengan cara pengakuan yang sama dengan anak pemboros itu yang
akan membentuk Kerajaan itu.
Lagi pula, pada waktu bani Israel turun ke
tanah Mesir, maka mereka telah mencapai taraf hidup yang tinggi di negeri Goshen . Mereka hidup
bagaikan raja-raja. Sesungguhnya mereka bahkan telah mencapai taraf kehidupan
yang lebih baik daripada yang terbaik dari orang-orang Mesir itu. Walaupun
Allah mengetahui, bahwa jika apabila masanya makin dekat bagi kelepasan mereka,
mereka terus-menerus hidup bagaikan raja-raja, jika segala perkara terus
menerus begitu mudah bagi mereka seperti halnya semasa hidupnya Yusuf, maka
mereka tidak pernah, tidak akan pernah mau mengambil keputusan untuk kembali ke
tanah perjanjian. Demikian itulah, maka keadaan-keadaan cobaan yang telah
ditakdirkan telah didatangkan untuk memaksa mereka berseru siang dan malam bagi
kelepasannya. Kemudian bersiap-siaplah mereka untuk pergi. Sungguhpun demikian
untuk lebih memastikan, bahwa mereka semuanya akan meninggalkan Mesir, maka
Tuhan membiarkan para majikan Mesir itu mencambuk punggung-punggung mereka
serta lebih memberati kerja mereka sewaktu Musa masih berada di negeri itu. Sama
juga halnya cinta akan dunia harus juga dicambuk keluar dari kita, jika kita
akan memulai menuju ke rumah Eden
kita itu.
Jika kamu anak laki-laki
dan perempuan ingin mendapatkan hidup yang tidak teratur, maka kamu akan
memperolehnya. Sesungguhnya adalah lebih mudah mendapatkannya di waktu ini
daripada mendapatkannya di masa anak pemboros yang sebenarnya itu di waktu itu.
Tetapi hendaklah diingat, bahwa jika kamu akan kembali ke rumah Eden kita kamu wajib
membayar dengan harga yang sama seperti yang telah dibayarnya. Tidak akan ada
tiket gratis bagi siapapun, baik tua ataupun muda.
Pengkhotbah 4 : 5 :
Orang bodoh itu melipat tangan, lalu makan
dagingnya sendiri.”
Orang bodoh itu melipat
tangannya; ia meremehkan pekerjaan. Ia memakan dagingnya sendiri. Gantinya
bekerja ia bahkan menghendaki tinggal dengan lapar, membiarkan perutnya
menghabiskan persediaan lemaknya, dan dengan demikian ia menjadi makin kurus.
Siapakah yang ingin menjadi orang bodoh?
Pengkhotbah 7 : 2 :
“Adalah lebih baik pergi ke rumah orang
berkabung daripada pergi ke rumah orang berpesta, karena di dalam rumah
perkabungan itulah kesudahan segala manusia, dan orang yang hidup itu akan
memperhatikannya.”
Rumah yang berpesta akan
membawakan kesudahan bagi segala orang yang hidup bagi kesenangan, yaitu bagi
hidup yang tak teratur. “Orang yang hidup akan
memperhatikannya”. Jadi, orang-orang yang tidak memperhatikannya adalah
sesungguhnya tidak hidup, maka mereka perlu dihidupkan kembali.
Pengkhotbah 7 : 3 :
“Duka cita adalah lebih baik daripada
tertawa, karena oleh muram muka hati akan lebih diperbaiki.”
Jika Saudara bernapsu
terhadap “kesenangan”, maka hatimu pada sesuatu saat akan menjadi sedih, tetapi
jika hatimu sedih, maka ia itu akan dibuat bergembira. Hanya orang bodoh yang
memilih tinggal di dalam rumah yang penuh kegembiraan. Bagi saya, saya ingin
lebih baik tinggal di rumah yang berkabung, “sama-sama merasakan penderitaan
dengan umat Allah daripada menikmati keplesiran-keplesiran dosa untuk hanya
sementara waktu.” Ibrani 11 : 25.
Kelompok yang satu memilih
untuk hidup di lereng-lereng gunung, ia memilih untuk hidup dengan cara yang
lebih sukar, terbukti adalah yang lebih bijaksana. Tetapi kelompok lainnya yang
memilih untuk hidup di dataran-dataran rendah, dimana ia dapat hidup dengan
mudah, terbukti adalah yang sangat bodoh. Yang kemudian ini pun adalah yang
lebih muda. Ia mendirikan kemahnya menghadap ke kota Sodom ,
maka makin lama ia memandang ke kota
itu makin dekat ia terbawa ke sana .
Akhirnya ia memutuskan untuk memindahkan kemahnya langsung ke dalam kota itu dimana di sana ia dapat melihatnya
selengkapnya dengan mudah.
Ia telah menjadi seorang
besar, mungkin sebagai seorang walikota dari kota itu seperti beberapa orang perkirakan,
dan bahwa dengan demikian itulah ia telah duduk pada pintu gerbang kota Sodom itu. Sungguhpun begitu adalah sangat
mungkin ia telah duduk di sana
menunggui orang-orang asing untuk diundangnya ke rumah. Sesungguhnya keluarga
Lot memiliki hidup yang menarik dan juga tidak teratur di antara orang-orang
Sodom, tetapi kegembiraan itu tidak berlangsung untuk selama-lamanya, maka Lot
dalam semalam telah kehilangan segala perkara yang pernah ia miliki; ia
kemudian telah keluar sebagai orang yang termiskin daripada segala orang miskin.
Saudara saksikan, Lot membayar mahal untuk
kesenangannya, maka jika Saudara mau membayar harga yang sedemikian ini untuk
kemenanganmu, maka engkau dapat melakukannya seperti yang telah dilakukannya.
Orang itu yang
tulisan-tulisannya sedang kita baca sekarang ada di masa lalu dan masih ada
sekarang, yaitu orang yang sangat bijaksana yang pernah dipunyai oleh dunia.
Sekarang apakah yang dikatakannya dari hal yang diperbuat orang bodoh? Orang
bodoh masuk ke rumah yang penuh kesenangan. Maukah saudara mengambil manfaat
dari pengalaman orang-orang lain? Maukah Saudara berpegang kepada nasehat orang
bijaksana itu? Jika Saudara mau, maka kebijaksanaan akan tetap tinggal dengan
Saudara.
Pengkhotbah 10 : 18 :
“Oleh keterlaluan malas rapuhlah bangunan
itu; dan oleh kelalaian tangan-tangan bocorlah rumah itu.”
Rumah orang malas itu
rapuhlah, rumahnya itu rusak bahkan sebelum ia berhasil menyelesaikannya, atau
sebelum ia berhasil memperbaikinya. Ia terlambat dalam segala hal --- suatu
kebiasaan buruk bagi seseorang untuk dapat masuk ke dalam. Apabila Saudara
berkendaraan ke luar kota ,
sepanjang jalan Saudara akan melihat, bahwa rumah-rumah jelek yang hampir roboh
dan yang tak terpelihara itu adalah rumah-rumah kepunyaan orang-orang yang
dapat Saudara saksikan berada di serambi-serambi depan sambil membuang-buang
waktu dimana mereka seharusnya bekerja. Tetapi Saudara akan sukar untuk dapat
melihat seseorang duduk-duduk secara menganggur sekeliling rumah-rumah yang
terawat dengan baik.Jikapun Saudara dapat melihat orang, maka Saudara akan
melihat mereka sedang melakukan sesuatu. Apakah yang sedang anda lakukan,
Saudara, Saudari? Tahukan Saudara jalan kembali ke Eden ?
Marilah kita kembali ke
pengkhotbah
Pengkhotbah 3 : 17 :
“Maka kataku dalam hatiku, bahwa Allah kelak
akan mengadili orang benar dan orang yang tiada benar, karena bagi setiap
maksud dan bagi setiap pekerjaan kelak ada masanya.”
Allah akan mengadili orang
jahat dan orang benar, sebab kelak ada suatu masa bagi setiap maksud dan setiap
pekerjaan. Setiap orang akan memberikan pertanggungan-jawab untuk waktunya sama
seperti untuk segala perbuatannya.
Pengkhotbah 8 : 6 :
“Karena bagi setiap maksud ada masa dan
hukum, maka oleh karena itu kesengsaraan manusia besarlah adanya di atasnya.”
Karena ada suatu masa bagi
setiap maksud dan setiap pekerjaan, maka oleh karena itu akan ada suatu masa
peradilan baik bagi mereka yang di dalam sidang maupun bagi mereka yang di
dunia. Dan oleh karena ada suatu masa dan suatu musim bagi setiap maksud, maka
penderitaan manusia akan bertambah jika ia tidak memperhatikan hukum Allah. Ia
harus melakukan setiap perkara pada waktunya, supaya penderitaan-penderitaannya
tidak akan bertambah.
Amsal 6 : 6 :
“Pergilah belajar kepada semut, hai
pemalas; perhatikanlah segala kelakuannya dan jadilah bijaksana.”
Manusia sebagai pelajar;
semut yang kecil itu sebagai guru! Betapa hinanya ucapan itu terhadap si
pemalas!
Amsal 6 : 7, 8 :
“Yang tiada memiliki penunjuk jalan, atau
pun penghulu, ataupun pemerintah, namun disediakannya juga makanannya dalam
musim panas, serta mengumpulkan makanannya dalam musim menuai.”
Semut mengetahui apa
yang patut dilakukan dan kapan harus dilakukan, lalu
melaksanakannya. Ia tidak pernah lalai untuk bekerja bagi hidupnya walaupun ia
tidak mempunyai pemimpin. Kalau saja Saudara turun masuk ke dalam rumahnya,
maka Saudara akan menjumpai persediaan-persediaan yang cukup melebihi kebutuhan
satu musim. Ia mengetahui kapan musim penuaian tiba, serta juga mengetahui
bagaimana memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya. Jika manusia gagal untuk
berbuat seperti semut, jika ia gagal untuk mencatat waktu dan musim, maka
kesengsaraannya akan pasti bertambah.
Kalau saja nasehat ini
datangnya dari manusia, maka kita mungkin barangkali tidak memerlukannya.
Tetapi ia datang dari Allah, yaitu dari
Dia yang memiliki pengawasan atas segala perkara. Ia mengetahui hidupmu
semenjak dari masa engkau lahir sampai pada masa engkau mati. Ia mengetahui
bentuk kehidupan yang bagaimana yang akan kau jalani. Engkau dapat membuat
dirimu sendiri menjalani cara hidup anak pemboros itu, tetapi alangkah lebih
baik jika tidak engkau melakukannya. Yang terbaik bagimu ialah berjalan menurut
kehendak Bapa.
Supaya selalu diingat,
bahwa hanya ada dua penguasa pikiran di dunia ini, yaitu pikiran dari Allah dan
pikiran dari Setan. Kita sebagai orang-orang berdosa telah dilahirkan dengan
pikiran Setan, dan pikiran ini tinggal dengan kita sampai kelak kita dilahirkan
kembali, yaitu lahir oleh Roh dan dengan pikiran Allah. Lalu untuk berbuat yang
benar, maka kita harus berbuat bertentangan terhadap apa yang dibisikkan oleh
pikiran daging kita, lalu kita akan kemudian melakukan apa yang pikiran Allah
sedang perjuangkan bagi kita untuk dilakukan.
Orang-orang muda mengetahui
apa yang sedang diperbuat oleh orang-orang dewasa. Mereka mengetahui berapa
banyak yang sedang kamu pikirkan dari hal Allah berikut Kerajaan-Nya. Mereka
mengetahui berapa banyak yang kamu pikirkan mengenai tempat ini dan mengenai
pekerjaannya. Oleh karena mereka mengetahui semuanya itu, serta masih banyak
lagi, maka sudah sampailah waktunya bagi kita semua untuk menyadari, bahwa kita
tak mungkin dapat memimpin anak-anak itu lebih dekat kepada perkara-perkara
Allah daripada memimpin diri kita sendiri. Kita tidak dapat mengilhami ke dalam
diri mereka itu iman dan semangat dalam perkara apapun juga jika kita sendiri
tidak memilikinya.
Saya berharap agar
orang-orang yang sedang mengikuti jalan-jalan anak pemboros itu, supaya datang
kepada dirinya sendiri sebelum sesuatu pengalaman sengsara datang pada diri
mereka.
Demikianlah jalan kembali
ke Eden secara
jelas digambarkan kepada setiap orang yang masuk ke dunia ini.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar